My Stepsister is My Ex-Girlfriend - Volume 6 Chapter 5-B Bahasa Indonesia


Bab 5-B


11:06 AM – Entah kenapa, teman sekelas yang jenius sedang memburu kesucianku (Yume)

 

Berderit

Aku meninggalkan ruang kelas kosong bersama Mizuto, dan saat kami akan pergi, aku mendengar suara berderit di belakangku.

“(Tunggu, tunggu, tunggu!)”

"Hmm?"

Aku menghentikan Mizuto, memelankan suaraku, dan melihat kembali ke ruang kelas kosong yang baru saja kami tempati tadi.

“(Apakah ada orang di kelas itu… tadi?)”

"Hah…?"

Mizuto mengerutkan alisnya dengan curiga, dan pada saat itu, terdengar derit lagi.

Kami saling memandang.

Kami mendekati pintu yang baru saja kami tutup, dan mengintip melalui jendela di pintu.

Dan kemudian ... kami melihat itu.

“—Yah, Hahaha, itu menakutkan.”

“… Tolong beri aku istirahat, Kurenai-san…”

Seorang pria dan seorang gadis merangkak keluar dari bawah meja guru.

““……!?””

Mereka bersembunyi!?

Mereka berada di bawah meja sejak tadi...sementara Mizuto menyentuh kakiku tadi!?

Juga, keduanya sangat akrab.

Gadis dengan gaya rambut asimetris yang panjang setiap sisinya berbeda adalah Wakil Ketua Suzuri Kurenai.

Pria itu adalah pria yang sama yang selalu menemaninya, Bendahara Jouji Haba.

Mereka berdua...berpelukan di bawah meja guru yang sempit...saat kami di kelas...?

"(Eh? Eh? Ada apa? Kenapa mereka berdua bersembunyi...?"

“(Bukankah itu karena…akan buruk jika mereka ketahuan…?)”

Eh? Maksudmu mereka tidak ingin ketahuan melakukan sesuatu? Seorang pria dan seorang gadis sendirian bersama? Di ruang kelas yang kosong…?

Kurenai-senpai dengan cepat menepuk ujung roknya, duduk di meja dekat jendela, dan menyilangkan kakinya dengan santai.

Senpai sendiri agak kecil, dan memiliki payudara kecil juga, tapi dia memiliki penampilan yang cukup feminin. Dengan kata lain…yah, jika aku harus memilih kata-kataku…dia cerewet. Dia tiba-tiba berdaging di bagian paha, dan dia menyilangkan kakinya meskipun dia memakai rok pendek, yang membuatnya sulit untuk melihat bagian dalamnya. Faktanya, Haba-senpai membuang muka, dan aku juga memalingkan wajah seperti Mizuto tadi.

Kurenai-senpai merayu Haba-senpai saat dia meletakkan tangannya di belakang punggungnya, yang tidak terlindungi.

"Yah, Joe, sekarang setelah kau menghirup semua aroma tubuhku, bisakah kita melanjutkan?"

“Tidak, ak tidak melakukan itu, dan aku tidak akan melakukan itu.”

Haba-senpai dengan jelas mengatakan itu. Kurasa ini pertama kalinya aku melihat dia berbicara seperti ini… ngomong-ngomong, apa… melanjutkan? Melanjutkan apa?

Kurenai-senpai terkikik.

“Kau seharusnya jangan berbohong, kau tahu? Lubang hidungmu lebarnya sekitar dua milimeter saat kau merunduk dan membenamkan wajahmu ke dadaku. Aku minta maaf atas hal itu. Aku seharusnya tidak memakai bra sebelumnya untuk mengantisipasi situasi itu. ”

“Itu sangat tidak perlu… apa yang menyenangkan dari merayuku?”

“Itu pertanyaan yang tidak aku mengerti. Bagaimana bisa tidak menyenangkan merayu pria yang aku cintai?”

Cinta…? Kau bilang cinta!? Kau mengatakan itu, bukan?

Kurenai-senpai dengan menggoda meletakkan jarinya di pitanya.

"Atau apakah keperawananku tidak layak untukmu?"

Apa yang—?

“(…Oy. Apakah ini sesuatu yang harus kita tonton?)”

“(H-Hanya sebentar lagi! Sebentar lagi!)”

Pada posisi ini, Haba-senpai membelakangiku, dan aku hampir tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku hampir bisa melihat telinganya yang memerah.

“…. Sudah kubilang berkali-kali, akulah yang tidak layak mendapatkannya. Aku tidak tahu apa yang kau inginkan, tapi aku tidak cukup baik untukmu, Kurenai-san.”

“Kau bisa menyebut cinta pertama seseorang sebagai iseng. Seperti yang telah aku katakan berkali-kali, kau tidak serendah yang kau kira. Lagi pula, akulah yang memintamu, tahu?”

“Lagi pula, aku hanya sedikit hebat dalam hal teknis, dan tidak ada yang lain—”

“Setiap orang memiliki diri yang ideal.”

Tiba-tiba, Kurenai-senpai berkata begitu.

Anehnya, kata-kata itu bergema cukup kuat untuk masuk ke telingaku meskipun ada jarak di antara kami.

“Disadari atau tidak, menurutku keindahan seseorang terletak pada penghormatan terhadap ideal itu Joe, idealmu itu indah. Itu sebabnya kau pikir kau tidak begitu hebat dalam kehidupan nyata. Kau sangat menghormati idealmu sehingga kau meremehkan kenyataanmu. Itulah sikapmu yang aku sebut indah.”

Haba-senpai terdiam, dan di sampingku, Mizuto juga tersentak.

Idealnya, diri…

Aku juga punya. Itu sebabnya aku memanjangkan rambutku, itu sebabnya aku memperbaiki rasa maluku, itu sebabnya aku berteman — itu sebabnya aku menyatakan cintaku kepadanya.

Aku ingin tahu apakah Mizuto juga memiliki itu.

Saat SMP, kupikir dia adalah pahlawan yang bisa melakukan apa saja. Bahkan pada saat ini, dengan kemampuan yang sangat tinggi yang tidak normal dan dia tampak hanya membutuhkan sedikit bantuan manusia—dia juga memiliki ideal yang ingin dia capai, dan kenyataan yang tidak bisa dia capai.

“Bahkan jika itu masalahnya …”

Haba-senpai mengeluarkan suara yang jarang dia gunakan, tapi cukup kuat.

"Aku yang ideal bukanlah aku yang kalah dengan godaan lemah dari teman sekelas yang cerdas tapi kasar yang menjadi binatang sementara semua orang bekerja keras."

"…Aku mengerti."

Kurenai-senpai mengencangkan pita yang dia longgarkan dan melompat dari meja.

"Aku membaca di bahan referensiku bahwa gairah menyala ketika kita menikmati kesenangan sementara orang lain bekerja, tetapi sepertinya aku salah."

"Tolong buang bahan referensi itu secepatnya."

"Menyedihkan. Aki harus memikirkan situasi baru lagi. Cukup sulit untuk membuat seorang pria dengan ideal yang begitu tinggi jatuh cinta.”

"Tolong segera sadar bahwa lebih sulit untuk disukai oleh wanita sepertimu."

Ah, uh oh, mereka ke sini!

Kami meninggalkan tempat itu sambil menghilangkan hawa kehadiran kami. Setelah kami cukup jauh untuk berbaur dengan hiruk pikuk festival budaya, kami akhirnya menghela nafas.

“Aku terkejut… Kupikir mereka berdua selalu bersama, tapi kurasa hubungan mereka…”

"Aku tidak berpikir 'hubungan mereka' meringkas segalanya ..."

Itu benar. Kurasa bahkan Kurenai-senpai juga memiliki sisi romantis …meskipun itu agak kasar.

“…Aku kasihan pada Haba-senpai.”

Mizuto bergumam pada dirinya sendiri.

“Eh? Mengapa? Kurenai-senpai jelas sedikit aneh, tapi dia imut dan baik.”

“Terlalu baik juga masalah, kau tahu.”

Dengan itu, Mizuto berjalan pergi dengan langkah yang cepat.

Apakah kau mengatakan bahwa bunga yang tidak dapat digapai terlalu baik untuknya? Memang benar bahwa dia memiliki kehadiran yang berbeda dari yang lain, dan dia memang mengatakan itu, tapi.

....Aku tidak berpikir itu ada hubungannya dengan itu.

Aku bisa menjadi kekasih denganmu saat itu, meskipun kupikir itu sama sekali tidak cocok untukku.

 

11:34 AM - Aku senang dia populer, tapi bukan berarti aku cemburu. (Akatsuki)

 

"Ah…! Kalian sampai!"

Aku menunggu di depan kelas, lalu Yume-chan dan Irido-kun akhirnya muncul dari kerumunan.

Aku melambai kepada mereka, dan mereka bergegas ke arahku ketika mereka melihat ke pintu di belakangku—jalan masuk para tamu.

“Maaf, kami sedikit terlambat… Hei, bukankah itu antrean yang cukup panjang?”

“Bukankah antreannya sepertinya melewati kelas lain…?”

“Itu~benar~! Antreannya lebih panjang dari yang diharapkan… jadi kami menambah batas waktu untuk setiap kunjungan dan menambah lebih banyak kursi dengan tergesa-gesa, tetapi masih ada terlalu banyak yang harus dilayani~.”

Syukurlah kelas sebelah tidak menggunakan ruang kelas mereka sendiri untuk kegiatan mereka. Jika mereka melakukan itu, antreannya akan kusut dan berantakan.

“K-kenapa… bisa begitu populer?”

“Sepertinya informasi kafe ini menyebar dari mulut ke mulut. Kopi yang dibuat Kine-chan lebih baik dari yang diharapkan untuk festival budaya—dan ada kalian berdua yang berjalan-jalan di sana-sini, yang membuatnya semakin populer.”

Saat aku melambaikan ponselku ke udara dan menunjukkannya pada Yume-chan “Eh, ehhhh…~” dia mengerang, terlihat gelisah sekaligus senang. Irido-kun mengerutkan kening dengan kesal.

“Pokoknya, bantu kami di sini! Kami kekurangan tenaga di sini!”

“O-oke!”

Aku menarik tangan Yume-chan dan Irido-kun dan membawa mereka ke dalam kelas. Kemudian, 

“Ah, gadis yang tadi…!” "Wow! Itu terlihat sangat bagus untukmu~~~!”

Kafe tiba-tiba menjadi ribut, dan mata Yume-chan menjadi kosong.

Pffft, kau memiliki kebanggaan yang cukup rendah, bukan, Yume-chan? Kau harus sadar kalau kau super duper imut~!

Dan tentu saja, Yume-chan bukan satu-satunya yang menjadi sorotan.

Saat Irido-kun muncul dengan kostum sarjananya, pakaian kerjanya, lebih dari 70% pelanggan wanita di toko saling berbisik, menjerit, atau segera diam dengan menutup mulut dan mengendurkan pipi.

Tentu saja, Irido-kun mengabaikan reaksi seperti itu dengan tatapan kosong. Sangat menjengkelkan, dia menyadari spesifikasinya yang tinggi, dan terlebih lagi baginya untuk mengabaikan reaksi seperti itu.

[TL Note: spesifikasi maksudnya penampilannya.]

Kami memasuki ruang staf yang dipisahkan oleh tirai, Yume-chan sepertinya masih kesulitan memahami situasinya.

“Ehhh…e-erm, ternyata ada banyak wanita di sini, kan?”

"Ya, ya. Menyebar dari mulut ke mulut, terutama di kalangan anak perempuan. Berkat itu, pengunjung kafe ini lebih didominasi wanita. Tidak ada upaya merayu staf seperti yang kita khawatirkan.”

Pengunjung datang karena undangan, dan informasi yang dibagikan di sistem tidak sebanyak yang diharapkan. Pada akhirnya, itu semua adalah usaha yang sia-sia dari sisi Irido-kun.

“—Kau akhirnya di sini, Irido~~~~…!”

Sekelompok anak laki-laki memasuki ruang staf, terdengar kesal. Seperti Irido-kun, staf lain juga melayani pelanggan dengan pakaian sarjana yang sama.

“Gadis-gadis yang datang ke sini setelah melihatmu menatap kami dan berkata 'mereka tidak sesempurna itu, ya?' 'yang baru saja kita lihat sebelumnya lebih baik'…!”

"Benar sekali! Kau tidak bisa menjadi sarjana jika kau adalah seorang anak SMA yang normal!”

"Bertanggungjawablah! Kehadiranmu mengusir kami ke alam bayangan! Kami harus menghentikanmu sebelum kau menyebabkan lebih banyak trauma emosional untuk kami!”

Menyedihkan…

Sepertinya anak laki-laki lebih sulit karena mereka tidak bisa terlihat sesempurna anak perempuan. Ini seharusnya menjadi tempat bagi kenalan kami untuk bertemu, tetapi karena Irido bersaudara adalah papan reklame yang sangat bagus, kami mendapatkan pengunjung asing yang datang.

Kawanami, yang menjadi lebih populer karena penampilannya yang sembrono, menyeringai saat dia berdiri di belakang anak laki-laki yang berkerumun di sekitar Irido-kun.

“Ada banyak orang yang menunggumu. Silakan dan jadilah pemanis mata, Irido. ”

“… Haa….”

Irido-kun mendesah lesu.

Ini tidak adil, aku tahu. Itu juga terlihat bagus untuknya.

"Dipahami. Aku hanya akan melayani sesuai apa yang tertulis di manual. ”

“Itu cukup bagus. Kupikir kau bisa mengatasinya. ”

Kawanami mendorong Irido-kun.

Dan aku juga akan menyenggol Yume-chan dari belakang, 

“Kau juga, Yume-chan! Jangan khawatir, aku akan membereskannya jika kau membuat kesalahan!

“A-aku akan melakukan yang terbaik…!”

Aku mendorong Yume-chan yang terlihat gugup bersama dengan Irido-kun, yang mengenakan topi sekolah, ke ruangan kafe.

Pada saat bersamaan,

"Yes yes yes!" “Aku ingin memesan~!” “Aku juga!”

Pelanggan mengangkat tangan mereka secara bersamaan.

Wow. Ini pasti lelucon yang buruk.

Badai pesanan tiba-tiba membanjiri mereka, dan Yume-chan menjadi panik.

"A-ap-apa yang harus aku lakukan ...?"


“Pergi ke yang terdekat dan mulai dari sana! Kami akan mengurus sisanya! Ini catatan pesanannya! ”

Aku menyerahkan catatan pesanan dan mendorong Yume-chan ke meja terdekat. Itu adalah kelompok yang terdiri dari tiga orang gadis. Kupikir mereka akan lebih mudah untuk ditangani daripada anak laki-laki atau orang dewasa, tapi, 

"Wow! Sangat cantik bahkan dari dekat!” “Apa-apa dengan rambutnya? Ini sangat terawat!” “Hei, bolehkah aku mengambil foto? Aku ingin mempostingnya di Instagram!”

“Eh, ah, tidak, erm…”

"Ya, ya! Pelanggan yang terhormat! Silakan memesan dengan cepat! Satu foto untuk Insta seharga 100.000 yen!”

Yumi-chan langsung kewalahan oleh serangan dari para gadis, jadi aku datang untuk membantu. Gadis-gadis itu berkata, "Itu terlalu mahal!" "Itu seharga gitar akustik!" “Baiklah kami menyerah~!” dan tertawa. Kami tidak sedang menjalankan kafe sungguhan, jadi tidak apa-apa memperlakukan pelanggan seperti ini.

“A-Akatsuki-san, terima kasih~…!”

"Terima kasih kembali. Ini tidak seperti kau bekerja di kafe sungguhan, santai saja! Aku akan membantumu untuk sementara waktu!”

“Uuu, itu tidak sebanding dengan masalahnya …”

Kau sangat serius. Itulah yang paling imut tentangmu!

Sementara itu, untuk Irido-kun…

“Satu cafĂ© au lait, satu es teh, benar?”


“Y-ya, tentu saja…” “E-erm, foto…”

“Maaf, tapi kami tidak mengizinkan mengambil gambar di sini….”

Dia berkata dengan ekspresi bermasalah di wajahnya, “Haaa…!” “T-tidak, tidak apa-apa…” dan para wanita itu hampir mencapai batas mereka.

Itu mengejutkan. Aku menduga dia akan melayani dengan tanpa ekspresi seperti mesin, tetapi aku tidak menduga dia akan memberikan senyum profesional.

“Kau lumayan ahli, Irido-kun. Aku tidak yakin mengapa kau biasanya begitu dingin kepadaku. ”

“Untuk urusan pekerjaan, keterampilan interpersonalku tampaknya diaktifkan. Begitu juga saat aku sedang bekerja di komite festival budaya …”

"…Ada apa?"

Aku menatap wajah Yume-chan dan melihat bahwa dia memiliki ekspresi rumit di wajahnya, sedikit cemberut sementara ujung bibirnya mengendur.

Yume-chan menutup mulutnya dengan catatan pesanan karena malu, 

“…Aku senang melihat Mizuto dikenali oleh orang lain…tapi, agak tidak menyenangkan melihatnya tersenyum pada gadis lain…”

“…………”

KENAPA GADIS INI SANGAT IMUT!!!!!?????

“Oyyy Irido, ke sini!”

Kawanami, yang berada di dekatnya, tiba-tiba memanggil Irido-kun.

Ketika Irido-kun datang kepadanya dengan tatapan ragu, Kawanami balas menatap tajam,

"Kau lebih baik ... melayani pelanggan dengan lebih dingin."

"Petunjuk macam apa itu?"

"Diam! Bukankah kau belajar dalam pelatihanmu untuk tidak menjual senyummu terlalu murah?”

"Ini seperti Ran Ran Ru setelah gelap."

[TL Note: Ran Ran Ru mengacu pada video meme iklan McD Jepang, yang di mana orang-orang mengatakan “jika ini adalah iklan resmi McD, aku tidak akan pernah makan di sini.]

Pada jawaban tenang Irido-kun, “pfft” Yume-chan tertawa kecil.


 11:55 AM -  Temanku saat sedang bekerja benar-benar berbeda daripada biasanya (Isana)

 

Aku disini!

Aku Isana Higashira.

Aku mendengar bahwa sekarang adalah shift kerja Mizuto-kun dan Yume-san, jadi aku datang ke kafe Taisho-Romantic yang sedang banyak diperbincangkan di kelas 1-7…

“Ini sangat populer…”

Ada antrean yang sangat panjang di pintu masuk! Ini seperti penjualan Mister Donut.

Yah, aku tidak pernah punya keberanian untuk pergi sendiri, apalagi ke kafe. Aku tidak menduga ini menjadi begitu populer.

Bolehkah aku mengintip mengintip ke dalam melalui jendela? Ada orang lain yang melihat antrean panjang ini dan tertarik, jadi aku akan berbaur dan mengintip…

"…Ah…"

Aku menemukan Mizuto-kun dan Yume-san!

Aku memang sudah melihat Mizuto-kun sebelumnya, tapi Yume-san juga terlihat sangat bagus… haaa…. Mereka dulu berpacaran saat SMP, huh…woah, entah kenapa jantungku berdebar kencang.

Ini dia! Kalian terlihat sangat berbeda saat melayani pelanggan, kurasa. Saat aku bertemu Mizuto-kun tadi, aku merasa dia hanya mengenakan kostum, tapi saat dia sedang bekerja, dia terlihat…tidak, kurasa seorang sarjana yang asli tidak akan bekerja di kafe, tapi,

"Apakah ini saja pesananmu?"

“Y-Ya, …!” "Ya! Terima kasih banyak."

“Silahkan nikmati makananmu.”

…Jadi..

Entah bagaimana… aura di sekitar Mizuto-kun jadi lebih lembut daripada biasanya. Aku tidak yakin harus berkata apa.

Apa itu? Apa-apaan dengan wajah tersenyum itu!? Di mana Mizuto-kun yang asin yang tidak pernah mengangkat alis tidak peduli bagaimana aku berbicara dengannya!? Dia hanya terlihat begitu baik kepada pelanggan! Tidak adil!

Yah, kukira dia tidak akan memberikan pandangan seperti itu bahkan jika aku memintanya ... Aku tidak memiliki keberanian untuk memasuki kafe, dan aku tidak punya uang, jadi aku hanya akan menggigit lidah dan mengintip. Tolong lihat ini, ini adalah kenyataan dari wanita yang digosipkan menjadi pacar Mizuto-kun.

“—Hah, Higashira-san?”

“Unya!”

Tiba-tiba, Minami-san muncul di depanku. Aku sangat terkejut sehingga aku menoleh ke samping.

Minami-san, seperti Yume-san, mengenakan hakama, dengan ponytail dan pita besar bergaya Jepang. Ohhh, sungguh menakjubkan bagaimana pola pita yang berbeda dapat mengubah aura seseorang.

"Apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau tidak akan masuk ke dalam?"

“A-aku tidak punya keberanian untuk itu… Juga antreannya sangat panjang…”

“Haha~….karena masuk sendiri itu susah, kau mengintip Irido-kun lewat jendela? Jadi? Bagaimana menurutmu?"

“…Aku merasa seperti tidak melihat Mizuto-kun, dan hanya dengan melihatnya membuatku gugup. …”

“Ohh, respon yang bagus. Kau masih memiliki sedikit sifat feminin dalam dirimu, Higashira-san.”

“Aku selalu memiliki itu. Aku hanya salah satu dari teman perempuan yang naksir padanya dan terpinggirkan setiap hari!”

“Apa bedanya dengan pacar…?”

Minami-san berkata sambil memberiku tatapan tercengang dengan mata setengah terbuka. Bedanya, Mizuto-kun sepertinya tidak naksir padaku sama sekali.

“Apakah kau ingin masuk? Aku akan membiarkanmu masuk sebagai teman, oke?”

“Tidak, tidak, tidak, tidak apa-apa! Itu buruk ketika orang lain mengantre! ”

"Aku mengerti. Hmm~…ah, begitu. Apakah kau bebas setelah ini?”

“Eh? Ah, ya, sampai Mizuto-kun dan yang lainnya selesai dengan pekerjaannya. …”

"Cukup bagus. Aku hampir selesai dengan shift-ku dan memiliki waktu luang. Ikutlah denganku!… Aku ingin kau membantuku dengan sesuatu, oke?”

“Haaa…aku tidak keberatan, tapi….”

Apa yang kau ingin aku bantu, ketika aku bahkan tidak membantu pameran kelasku?

“Nah, tunggu di sini sebentar, Higashira-san, aku harus ganti baju.”

Minami-san menyeringai licik dan berjalan pergi. Dia mendekati Yume-san dan mengatakan sesuatu seperti, "Hei, biarkan aku meminjam itu". Dia kemudian menjawab “Eh?…Ah, begitu. Aku akan menyerahkannya padamu,” dan memberiku senyum misterius.

Ehh…? Apa itu? Apa yang kau rencanakan…?

Sementara aku bingung, suara bisik-bisik terdengar dari sekitarku.

“Itu Higashira…”, “Lihat, dia dan Irido-kun digosipkan…”, “Ahh! Anak itu…!?"

…Hmmm.

Aku memutuskan untuk tidak memperdulikan orang-orang di sekitarku, tetapi aku masih merasa tidak nyaman. Aku mungkin akan mati jika aku terus berdiri di sini, jadi aku meninggalkan jendela, merasa menyesal, dan menuju tempat yang agak jauh dari kelas 1-7.

Minami-san, apa yang kau rencanakan...? Aku tidak bisa berhenti khawatir!


 12:16 PM - Orang mungkin lupa, tapi apa yang terjadi di sekitar datang ke sekitar (Mizuto)

 

Istirahat makan siang sudah di depan mata, dan kami harus memotong antrean. Setelah kami berurusan dengan antrean saat ini, kami akhirnya bisa istirahat. Aku berjanji untuk berkeliling festival budaya dengan Yume dan Isana. Akhirnya, aku busa melepaskan senyum profesional yang membuatku tidak nyaman.

…Mungkin tidak.

Pada saat-saat terakhir, seorang pembunuh yang merepotkan muncul.

“Oi, Irido. Seseorang memanggilmu.”

Kawanami datang untuk memanggilku di area staf dengan tatapan tercengang.

"Dipanggil? Oleh siapa?"

"Aku tidak tahu? Onee-san yang sangat cantik dan seorang anak SD. Aku tidak benar-benar tahu harus menyebutkan apa…tapi, apa hubunganmu dengan mereka?”

Kakak perempuan.

Dari semua kenalanku, ada satu orang yang aku sebut begitu.

"… Oke. Aku akan pergi…."

"Kau terlihat seperti kau benar-benar malu."

“Tentu saja—kau akan terlihat seperti ini juga jika kerabatmu datang ke tempat kerjamu.”

“… Ahhh….”

Kawanami sepertinya mengerti, karena dia kasihan padaku, “Lakukan yang terbaik.” dan menepuk pundakku pelan.

Aku pergi ke area kafe yang tidak terlalu ramai seperti sebelumnya, dan menemukan bahwa Yume telah ditangkap oleh orang itu.

“—Ayolah, Chikuma, ada yang ingin kau katakan pada Yume, kan?”

“Eh, ahh, uuu…”

“Madoka-san, kau tidak perlu memaksanya untuk mengatakan hal seperti itu… Maaf, Chikuma-kun. Kau tidak perlu khawatir tentang itu, oke? ”

Benar saja, itu adalah Madoka-san.

Dia memang bilang kalau akan datang, dan Yume memang mengiriminya undangan, tapi yang merepotkan bagi kami, dia benar-benar datang. Dan entah kenapa, dia bahkan membawa adiknya Chikuma. Si kecil yang malang. Dia anak yang pemalu, dan aku yakin dia tidak akan merasa nyaman mengunjungi festival budaya SMA.

Dengan enggan aku bergabung dengan keributan seorang gadis SMA dan seorang mahasiswi yang mengepung seorang anak SD berwajah merah, "Ohhh!" dan Madoka-san menatapku.

“Mizuto-kun! Aku pernah mendengar tentang reputasimu~? Kudengar kau pelayan nomor satu di restoran ini~?”

“Aku tidak memiliki reputasi, dan ini hanya toko sementara untuk festival budaya.”

“Lagi-lagi itu? Nihihi, aku melihat gadis-gadis lain berterima ‘kya kya' saat melihatmu. Aku sangat bangga padamu sebagai kakak perempuan.”

Akan terlalu merepotkan untuk berurusan dengannya, jadi aku melihat ke arah Yume dan berkata.

“Jangan bersantai terlalu lama. Masih ada pelanggan lain di sini.”

“Kau benar-benar tidak ramah. Kenapa kau tidak lebih ramah dengan Madoka-san?…Maaf, Madoka-san, ada lebih banyak pelanggan dari yang aku harapkan…”

"Tidak masalah. Kami hanya akan duduk di sini dan menonton! Kembalilah bekerja~.”

Yume membungkuk dan meninggalkan tempat duduk Madoka-san, dan Chikuma mengikutinya dari belakang dengan matanya…yah, secara umum, dapat dimengerti jika dia mengagumi seorang kerabat yang tiba-tiba muncul. Secara umum, begitu.

Aku juga meninggalkan kursi, dan pergi ke pelanggan yang sedang menunggu. Tepat pada saat ini, ada kursi kosong.

"Untuk berapa orang?"

“Ah, hanya kami berdua!”

Mungkin mereka anak SMP, mungkin tahun pertama. Mereka adalah sepasang gadis yang belum tumbuh cukup tinggi. Salah satu dari mereka tampak ramah, tetapi yang lain dari tadi melihat ke bawah secara diagonal, tampak tertekan. Kukira ini adalah pelanggan terakhir kami untuk pagi ini.

Sebagai bagian dari tugasku, aku membimbing gadis-gadis SMP ini ke tempat duduk mereka saat mereka melihat dengan penasaran koran era Taisho di dinding dan rak buku yang berisi karya-karya tokoh sastra saat itu.

Ada beberapa siswa SMP yang datang. Mereka mendapat undangan dari kakak atau senior mereka, dan pada dasarnya menganggap acara ini seperti kunjungan sekolah terbuka. Dengan kata lain, mereka adalah mungkin jadi kouhai kami di masa depan—tapi aku sudah lulus pada saat anak-anak ini masuk SMA.

Ketika aku mempersilahkan mereka duduk, yang tampak ramah tersenyum ke arahku, seperti yang aku harapkan.

“Onii-san, kamu benar-benar keren! Pakaian itu benar-benar terlihat bagus untukmu! Hei, bukankah kau juga berpikir begitu?”

“…………”

Untuk beberapa alasan, yang tampak masam itu menatap wajahku.

Aku sudah terbiasa dengan tatapan itu saat berpakaian seperti ini, tapi tetap saja, dia menatapku seperti ada udang karang di wajahku.

Ada apa?

Jadi aku bertanya-tanya, 

“…Emm…”

Gadis SMP itu perlahan bicara sambil menatap wajahku dengan alis terangkat.

"Apakah kita ... pernah bertemu di suatu tempat sebelumnya?"

"Hah?"

Mau tak mau aku keluar dari mode profesionalku dan menunjukkan diriku yang sebenarnya.

Apa kita pernah bertemu? Itu yang dia tanyakan padaku?

Aku menatap wajah gadis SMP itu lagi. Rambutnya panjang dan diikuti twintail, dan meskipun wajahnya terlihat agak polos, matanya yang tsurime memberikan kesan tegas.

[TL Note: tsurime, entah apa gak tau. Kalau ada yang tau bisa komen.]

Aku tidak pernah pandai mengingat wajah orang, tetapi ketika mereka semuda ini, hampir tidak mungkin untuk membedakan mereka. Aku hanya bertanya-tanya mengapa orang tidak bisa membedakan wajah anak-anak yang sedang tumbuh.

"Maaf...tapi aku tidak ingat."

"Oh begitu…"

Gadis itu menunduk dengan sedikit kecewa, dan gadis yang terlihat ramah itu berkata,

“Eh? Itu tidak biasa! Aku tidak percaya kau tertarik pada seorang pria! Kau selalu melihat anak laki-laki di kelasmu seperti mereka sampah~!”

“Bukan seperti itu… aku hanya salah…”

“Dengarkan aku, onii-san! Ketika dia di kelas lima ... dia melihat pasangan dewasa saat sedang berciuman! Dia sangat trauma dengan itu hingga dia berakhir menganggap anak laki-laki itu buruk”

"Tunggu…! Kau terlalu banyak bicara!"

Aku mengerti. Jadi dia hanya melihatku dengan waspada, ya…walaupun itu tidak menjawab pertanyaanku…

“Kurasa kita akan meminta staf perempuan untuk melayanimu. Apakah itu tidak masalah?”

"T-terima kasih banyak."

Tapi gadis SMP yang membenci pria itu terus menatap wajahku saat aku menerima pesanannya.

Aku kembali ke area staf setelah menerima pesanan mereka, dan Yume menatapku dengan tajam.

“…Kau berbicara cukup lama, bukan?”

“Mereka hanya banyak bicara, itu saja. Nah, sekarang karena tidak terlalu ramai, kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu, kan?”

"Hmmm…"

Yume melirik kedua gadis SMP tadi, 

“…Mereka terlihat seperti anak tahun pertama.”

“Mungkin, ya, kurasa.”

“Mereka sangat kecil.”

"Itu kira-kira tepat untuk siswa SMP tahun pertama."

“......Kau suka anak SMP?”

"Aku akan memukulmu."

Memang benar bahwa aku pernah berpacaran dengan seorang gadis SMP, tetapi aku juga masih SMP saat itu.

Aku sedang tidak mood untuk menangani sindiran anehnya, dan aku memaksakan diri untuk kembali bekerja.

“Siswa SMP itu tidak suka laki-laki berambut panjang. Kau harus melayani dia karena itu. ”

“Hmmm…jadi sekarang aku harus berurusan dengan gadis-gadis pembenci pria…”

"Cukup."

Nihihi, aku menoleh ke arah suara tawa itu dan melihat Madoka-san menatapku, menyeringai. Serius, kau harus belajar dari Chikuma... yang dengan diam mendinginkan tehnya.

Jadi kupikir, 

"-Ah."

Chikuma, yang hendak menyesap minumannya, membenturkan sikunya ke meja.

Piring itu meluncur dari meja dan mendarat di lantai dengan keras—atau begitulah yang kubayangkan, 

“Wah!”

Sebuah tangan dengan cepat terulur dari samping dan menangkap piring itu.

Itu adalah gadis SMP yang membenci pria yang duduk di kursi sebelah.

Dia menghela nafas lega dan mengulurkan piring itu ke Chikuma.

"Ambil ini. Hati-hati."

“Ahhh….”

Chikuma mengambil piringnya, dan mengeluarkan suara lembut. Melihat itu, Madoka-san berkata, “Maaf! Terima kasih! Kau juga, Chikuma!” Chikuma menatap gadis SMP itu dengan wajahnya yang benar-benar merah sampai ke telinganya karena malu atas kesalahannya.

"Terima kasih banyak…."

“————Ugh.”

Gadis sekolah menengah itu agak tersentak, tapi bergumam dengan dingin, "...Bukan apa-apa," dan kembali ke tempat duduknya.

Hmmm. Dia pasti sangat tidak nyaman dengan pria jika dia bertindak seperti itu bahkan pada anak laki-laki yang lebih muda.

Ketika dia di kelas lima, dia melihat pasangan berciuman .... sekarang dia siswa SMP tahun pertama, berarti dua tahun yang lalu—

—Dua tahun lalu—pasangan—berciuman—SD—

"…Hmm?"

Apa ini... yang menggangguku sekarang?

“Ini pesanan nomor dua! Antarkan, antarkan, antarkan!"

Staf dapur mengangkat suaranya, dan ketidaknyamanan itu menghilang ke suatu tempat. Tentang apa itu?


 12:48 PM - Memuji penampilan teman wanitaku entah kenapa membuatku merasa kalah (Mizuto)

 

“Akatsuki-san?”

Saat ini jam makan siang, dan kios akan ditutup sebentar. Staf dapur mengeluh dan bergegas ke supermarket terdekat karena kami kehabisan bahan, dan sementara itu, Yume dan aku pergi ke ruang ganti yang ditentukan untuk melepas kostum kami.

Dalam perjalanan, aku menerima pesan misterius di ponselku.

Yume melihat layar ponselku dari samping dan berkata, 

““Higashira-san ada padaku. Jika kau ingin dia kembali, datanglah ke mesin baca telapak tangan otomatis di sebelah panggung di halaman. ” …kau menyukai hal-hal semacam ini, ya, Akatsuki-san?”

[TL Note: mesin macam apa ini.]

“Lagi pula aku akan bertemu dengan Isana, jadi kurasa tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, apa itu mesin baca telapak tangan otomatis…?”

Apa gunanya itu? Atau apakah kelas suatu kelas membuka kios semacam itu?

Bagaimanapun, kami pergi ke ruang ganti, di mana kami akhirnya melepaskan hakama kami.

Aku mengenakan seragamku dan meninggalkan ruang ganti pria, dan Yume keluar dari ruang ganti wanita setelah beberapa saat. Dia mengenakan rok lipit seragamnya sebagai bawahan, tetapi kaus kelas kuning di atasnya.

Yume memiringkan kepalanya saat melihatku.

"Di mana kaus kelasmu?"

“Aku memakainya di bawah bajuku ….”

Aku menarik pelan kerah kemejaku, memperlihatkan kaus yang kukenakan di bawahnya.

Seperti yang aku katakan kepada Isana sebelumnya, aku tidak terlalu menyukai T-shirt kelas ini. Namun, fungsinya lumayan, dan Yume suka menggangguku seperti ini, jadi aku memakainya tanpa mengeluh—lebih baik memakainya sebagai kaus dalam karena kami akan bertemu seseorang yang lebih membenci kaus kelas daripada aku..

Kami mengembalikan kostum kami ke ruang kelas, dan menuju ke lokasi yang ditentukan oleh Minami-san.

Ada antrean tertib menuju kios-kios di halaman sekolah, dan di luarnya ada panggung untuk acara. Drama, pertunjukan band, dan acara lainnya diadakan di sini dan di gimnasium.

Namun, karena sudah jam makan siang, tidak ada seorang pun di atas panggung. Aku melintasi area penonton yang sepi dan berjalan ke samping panggung, di mana aku menemukan sebuah kios mesin baca telapak tangan otomatis yang begitu dekat dengan panggung hingga aku hampir tidak menyadarinya.

Tepat di sebelahnya, menyatu dengan bayangan pohon yang ditanam, aku melihat Minami-san mengenakan T-shirt kelas, bersama dengan Isana yang entah kenapa merunduk.

“Maaf membuatmu menunggu, Akatsuki-san. Kau juga, Higashira-san…Apa yang kau lakukan?”

“…Uuu…bukan aku…Minami-san tiba-tiba……”

Bahu Isana gemetar saat dia bergumam, seolah berbicara dengan lubang pohon.

Aku mengerutkan kening dan memelototi Minami-san.

"… Apa yang kau lakukan?"

“Kau menakutkan! Jangan marah, aku hanya mengganti pakaiannya! Kau mempercayaiku, ya!? ”

Sebaliknya, aku akan bertanya apakah dia pernah melakukan sesuatu untuk membuatku percaya padanya.

Jika kau bertanya kepadaku, Isana tidak mengenakan seragam. Tubuh bagian atasnya sebagian besar tertutup jubah hitam, tapi roknya berwarna hijau tua seperti matcha, dan sepertinya ada penutup depan di atasnya. Jelas itu lebih seperti pakaian pelayan daripada seragam….

“Ayo, ayo, Higashira-san! Kau sudah berganti pakaian, jadi mari kita tunjukkan pada mereka! Ya, benar! Itu terlihat bagus untukmu, jangan biarkan mata Yume-chan melihatmu seperti orang bodoh!”

“Hyaaah!? A-aku belum siap untuk ini. …!”

Saat Isana dipaksa menghadap ke depan oleh Minami-san, “Ohhhh! Yume mengatupkan kedua tangannya.”

“Syukurlah ukurannya pas!”

"Itu sempurna! Aku khawatir tentang area dada!”

Sepertinya kesanku tentang dia berpakaian seperti seorang pelayan hampir tepat.

Dia mengenakan jubah di sekitar dadanya, tapi sepertinya dia mengenakan blus putih dengan gaun seperti celemek di atasnya yang terbuka di bagian dada.

Pakaian yang sangat mengingatkanku pada Eropa, pada pandangan pertama tampak familiar untukku.

“Tunggu… Dirndl…?”

Itu adalah gaun yang Madoka-san ingin Yume kenakan saat kami mencari kostum di universitas.

Seingatku, area payudaranya terlalu terbuka, jadi aku melarangnya memakainya….tapi…

“………Ah, jadi itu jubah.”

“Kau tidak bisa keluar dengan ini! Orang Jerman itu gila!”

Isana berseru, merapatkan bagian depan jubahnya untuk menutupi dadanya.

Minami-san meraih bahu Isana dari belakang, "Nihihi." dan mulai tertawa terbahak-bahak.

“Jangan khawatir…baju renang menunjukkan lebih banyak bagian tubuh…percaya dirilah.… kau terlihat agak erotis—tidak, maksudku kau imut dan menggemaskan. …”

“Kau bilang ini erotis, kan!? Kau hampir mengatakan itu! ”

“Apakah kau tidak ingin Irido-kun melihatmu seperti itu?”

“Uuu.”

“Kau sudah sadar akan hal itu, bukan? Kau akan senang jika diberitahu bahwa kau imut oleh seseorang yang kau sukai! Jika itu hanya seorang teman, maka dia bisa memujimu dengan jujur ​​mengatakan itu tanpa ragu-ragu~~~”

“Uuuuuu…”

"Keterampilanmu membujuk benar-benar menakutkan ..."

Yume berkomentar dengan senyum masam. Selalu melakukan hal-hal yang tidak perlu, ya?

Merasa tercengang, aku memutuskan untuk membantu.

“Jangan memaksakan diri. Bahkan jika itu dilakukan oleh jenis kelamin yang sama, itu adalah pelecehan seksual…”

“—T-Tunggu sebentar ….”

Isana berkata dengan suara lemah, menatapku.

“Jika hanya untuk Mizuto-kun…lalu, sedikit saja…y-yah? Sekarang aku memikirkannya, aku biasa pergi keluar dengan mengenakan tank top selama liburan musim panas. Ini tidak terlalu berbeda…, kan?”

“Jangan tanya aku…”

Dia benar bahwa itu adalah pakaian yang tidak separah kemeja pacar beberapa hari yang lalu.

Isana memberi isyarat padaku untuk mendekatinya, dan ketika aku mencoba mendekatinya, Yume menarik lengan seragamku.

“(Kau harus memujinya dengan benar, oke? …Kau tidak bisa menatapnya terlalu lama.)”

Jadi bagaimana?…Sungguh, bagaimana aku harus meresponnya?

Aku melepaskan tangan Yume dan mendekati Isana. Minami-san juga mendorong Isana, meninggalkan kami sendirian di bawah naungan matahari tengah hari.

Isana memegang jubahnya dan mengalihkan pandangan matanya dari satu sisi ke sisi lain, lalu akhirnya menatapku dengan tatapan memelas.

“K-kalau begitu, permisi. …”

Gulp, Isana membuka ikatan jubahnya...dan aku merasa gugup saat dia bersikap begitu serius. Kenapa sekarang? Apa yang sedang kami lakukan di tepi halaman sekolah di siang bolong?

Sementara aku melemparkan pertanyaan yang belum terjawab ke dalam kehampaan, Isana membuka bagian depan jubahnya.

“…………”

“…………”

…… itu adalah .....


Aku tahu itu, aku seharus tahu. Aku tahu Dirndl dirancang untuk memperlihatkan banyak bagian dada dan bahu, tapi…apakah seperti ini penampilan Isana setiap kali dia tidak berpakaian seperti gadis SMA?

Blus putih berenda mengangkat tonjolan G-cup yang dia banggakan, benar-benar memperlihatkan belahan dadanya. Ada celah kecil antara blusnya dan payudaranya, dan jika aku memasukkan jariku ke dalamnya dan menurunkannya, belahan dada itu akan keluar..

Jika hanya ini, ini tidak jauh berbeda dari cara dia berpakaian selama liburan musim panas ketika dia begitu ceroboh. Namun, Dirndl sering dipakai oleh gadis desa dalam manga fantasi, dan itu cocok dengan penampilan Isana yang sederhana…

“B-Bagaimana menurutmu…?”

Isana bertanya dengan tatapan cemas.

Sekarang, yang ada dalam pikiranku hanya satu.

Entah kenapa—aku menyesalinya.

Aku merasa kalah karena Isana, yang selalu berpakaian berantakan dan sangat buruk dalam menggodaku—membuatku merasa begini.

Tapi…jika aku tidak memberitahunya dengan benar, Isana akan memakai ini tanpa alasan.

Aku mencari kata-kata selama beberapa detik, tetapi kurangnya bakat sastraku membuat usahaku sia-sia.

“…… Itu terlihat cukup bagus untukmu. Menurutku itu manis.”

“Ueehh?”

Isana mengerjap kaget, dan wajahnya berangsur-angsur memerah.

“B-benarkah?”

“Aku tidak pandai dalam memilih kata-kata. Kau tahu itu kan?"

“Tidak 'imut' seperti anjing atau kucing—”

"Tidak."

“…N-ngomong-ngomong…bagian mananya…?”

"Secara keseluruhan. Akan aneh jika aku mengatakannya dengan detail. ”

“………Uehe. Uehehe. Eh heh heh …… ”

Isana merasa malu, dan terus menahan diri ekspresinya bergonta-ganti antara seringai malu dan tatapan otaku.

Aku membuang muka, secara misterius merasa kalah. Padahal aku senang dia bahagia.

“Heh. Jika ini sesuai dengan fetish Mizuto-kun, mungkin aku harus melepas jubah ini untuk sementara waktu. Ehehehe! Mau bagaimana lagi, itu adalah fetish Mizuto-kun! Hehe!”

“… Ngomong-ngomong, izinkan aku menanyakan sesuatu padamu.”

"Ya?"

Aku menfhadap Isana, yang dengan cepat terbawa suasana, dengan kenyataan situasinya.

“Di mana... pakaian dalammu?”

Aku tidak bisa melihat kain apapun di… di mana bra yang seharusnya berada di sana.

Isana membeku sebentar dengan senyum malu-malu yang masih terpampang di wajahnya—lalu menutup bagian depan jubahnya.

“…Aku harus tetap menutupnya….”

"Kau harus, kecuali kau ingin berakhir di kantor BK."

Astaga…syukurlah kami menolak saran Madoka-san, sungguh.

 

Translator: Janaka

Post a Comment

Previous Post Next Post

Post Ads 1

Post Ads 2