OmiAi - Chapter 125 Bahasa Indonesia


 Bab 125


Pertama, Yuzuru dengan lembut menggenggam tangan Arisa.

Menekan lembut bibirnya ke punggung tangannya di mana cincin tunangannya bersinar.

“Nh…”

Arisa membuat suara kecil.

Kemudian, dia perlahan melemah dan menjatuhkan badannya pada Yuzuru.

Yuzuru dengan lembut membelai rambut halus Arisa dengan tangannya.

Di sisi lain, Arisa mengalihkan pandangannya yang panas ke arah Yuzuru.

“Arisa…”

Yuzuru memanggil namanya dan dengan lembut menjatuhkan ciuman di atas rambutnya.

Setelah itu, mendekatkan bibir ke dahinya.

“Ah … wajahku ...”

Arisa mengangkat suaranya yang lemah.

Namun, Yuzuru mengabaikannya dan mencium dahinya.

“Bagaimana?”

“… Aku baik-baik saja.”

Kata Arisa, mendesah panas, pipinya memerah, dan mengalihkan pandangannya yang basah ke arah Yuzuru.

Kemudian, keduanya berhadapan.

Lalu, mereka berdua saling bertukar pelukan hangat.

Memandang wajah satu sama lain.

Ketika Yuzuru perlahan mendekatkan wajahnya, Arisa memejamkan matanya.

Bibir Yuzuru menyentuh pipi Arisa yang lembut dan kemerahan.

“Bolehkah aku … melakukannya juga?”

“…Tentu.”

Saat Yuzuru menjawab, Arisa memejamkan matanya erat-erat, menggoyangkan tubuhnya dan perlahan mendekatkan bibirnya ke Yuzuru.

Bibir berkilau Arisa menyentuh pipi Yuzuru.

“Aku berhasil…”

“Bagus.”

Yuzuru membelai lembut rambut Arisa dengan senyum bahagia.

Arisa menyipitkan matanya, terlihat nyaman.

“Arisa.”

“Ya.”

“Selanjutnya… boleh, ‘kan aku melakukannya di sini?”

Yuzuru mengatakannya dan dengan lembut menyentuh bibir Arisa.

Bibirnya berlapis lip balm, terasa lembab dan sangat lembut.

“Eh… Ah…”

Arisa sedikit menggerakkan bibirnya.

Kemudian, setelah memandang Yuzuru dan bolak-balik melihat kiri-kanan, dia menurunkan pandangannya malu-malu, lalu menjawab dengan suara kecil.

“U-Um… kupikir, itu terlalu cepat…”

“Aku mengerti.”

Tidak perlu terburu-buru.

Karena masih ada banyak waktu.

“Selain bibir boleh, ‘kan?”

Ketika Yuzuru bertanya, Arisa mengangguk dengan wajah memerah.

“Boleh … silakan, lakukan sesukamu.”

Yuzuru kembali memeluk Arisa.

Pelukan Arisa sangat lembut dan panas.

Lalu…

“Nhh…”

Yuzuru menempelkan bibirnya ke tengkuk putihnya.

Jelas sekali bahwa Arisa menggoyangkan tubuhnya.

“Di sini, tidak apa-apa?”

“Nh… ya…”

Arisa menggelengkan kepalanya secara vertikal.

Selanjutnya, perlahan Yuzuru mendekatkan mulutnya ke telinga Arisa.

Dan dengan lembut meniupnya.

“Ah, tidak, di sana…”

Seraya terus mencium telinganya, Arisa menggoyangkan tubuhnya.

“Ti … tidak boleh.”

Kata Arisa dengan suara lemah.

Akan tetapi, Yuzuru tidak merasa bahwa Arisa benar-benar tidak menyukainya.

“Arisa, aku mencintaimu.”

Yuzuru berbisik ke telinga Arisa.

Saat digoda dengan kata-kata itu, hembusannya sedikit mengguncang telinga dan rambut Arisa.

“Wa-Walaupun kamu menggodaku … pokoknya tetap tidak boleh.”

Arisa, di sisi lain, menggembungkan pipinya dan berkata dengan nada geram.

Kemudian …

“Giliranku.”

Setelah berbisik di telinga Yuzuru, Arisa mencium telinganya.

Lalu menekan bibirnya ke leher Yuzuru.

“…Arisa.”

“Yuzuru-san…”

Mereka saling memandang dan bertukar ciuman di pipi dan dahi mereka.

Semakin sering mereka mencium, semakin panas pula kedua tubuh mereka.

“Arisa.”

“Ya.”

“… Apa di bibir, tidak boleh?”

Yuzuru berkata seakan dia tertarik dengan bibir lembut Arisa.

Di sisi lain, wajah Arisa menjadi merah padam dan menjawab setelah berpikir sejenak.

“Ti-Tidak boleh …. A-Aku masih malu.”

Kata Arisa, sembari dengan lembut mendorong tubuh Yuzuru.

Namun, Yuzuru mencoba mendekatkan tubuhnya untuk melawan perlawanan dari Arisa.

“Tunggu … mungkin karena kamu sangat menarik. Aku … jadi tidak tahan.”

“Me-Meski kamu bilang begitu, tidak peduli seberapa banyak kamu menggodaku, aku masih belum siap.”

Kata Arisa, dengan tatapan bingung.

Tetapi, Yuzuru masih berusaha untuk menutup jarak.

Arisa memeluk Yuzuru seolah dia melompat setelah dia bingung sesaat.

Arisa berbisik nakal ke telinga Yuzuru.

“Dengan begini, kamu tidak bisa melakukannya.”

Itu terdengar provokatif di telinga Yuzuru.

Yuzuru menempatkan kekuatan di kedua lengannya.

A-Ano… Yuzuru-san, um, kamu terlalu kuat…”

“Arisa!”

“Fueh? Ah, tu-tunggu…”

Buk

Sebuah suara keras bergema.

Yuzuru menatap mata berwarna giok di depannya.

Di sisi lain, Arisa memasang ekspresi bingung dengan mulut menganga.

Tanpa sadar, Yuzuru mendorong Arisa ke bawah.


Translator: Exxod

Editor: Janaka

4 Comments

Previous Post Next Post

Post Ads 1

Post Ads 2