Tenkosaki - Chapter 20 Bahasa Indonesia


 

Bab 20 - aku tidak bisa berkata apa-apa

 Perabotan berwarna pastel, hiasan yang imut, dan kardus-kardus yang tergeletak di lantai.

 Di kamar Himeko ini, keributan antara Kirishima bersaudara berlangsung sejak pagi.

"Bangun, Himeko, bangun! Bangun! Ini sudah jam delapan!"

"Hmm, salad shabu udon dingin..."

"Baiklah, aku akan membuat itu malam ini, jadi bangunlah!"

"Saus wijen~"

[TL Note: aslinya γ”γΎγ γ‚Œ]

"Himeko!"

 Himeko kadang kesiangan.

 Aku selalu membangunkannya jika itu terjadi, tapi hari ini dia sangat sulit dibangunkan.

 Tidak ada tanda-tanda dia akan bangun bahkan saat aku memanggil atau mengguncangnya, dan aku akhirnya menarik futonnya yang membuat Himeko jatuh dan bangun dengan berteriak "Fugiaa!".

 Setelah itu, kami bersiap-siap dengan panik dan keluar rumah dengan tergesa-gesa.

"Ugh, rambutku berantakan, aku lapar, dan berkeringat! Ini adalah pagi terburuk."

"Itu sebabnya, aku menyuruhmu tidur cepat kemarin!"

"Itu..."

 Alasan dia kesiangan hari ini adalah karena Himeko begadang sampai larut malam kemarin.

 Aku beberapa kali menyuruhnya untuk segera tidur, tapi suara notifikasi dari smartphone-nya yang terdengar dari kamer sebelah tidak berhenti hingga tengah malam. Itu sepenuhnya adalah salah Himeko sendiri.

(Dasar, aku akan memasukkan tomat mentah ke dalam makan malamnya dan memaksanya untuk makan itu!)

 Aku dalam hati bersumpah akan membalas dendam pada Himeko karena membuatku terlambat dengan memasukkan makanan yang dia benci ke makan malamnya.

+×+×+×+

 Hayato bergegas masuk ke dalam kelas tepat sebelum bel berbunyi.

"Yo, Kirishima. Apakah kau kesiangan?"

"Adik perempuanku, bukan aku, Mori."

"Oh, kau punya adik perempuan. Berapa umurnya?"

"Dia satu tahun lebih muda dariku. Dia di tahun ketiga SMP... Ada apa itu?"

"Yah, sulit untuk dijelaskan."

 Aku dan Mori melihat teman sekelas kami sedang mengerubungi seorang gadis.

 Gadis yang dikerubungi itu adalah Haruki, yang wajahnya terlihat agak pucat. Semua orang mengkhawatirkannya.

"Nikaido-san, apakah kamu baik-baik saja?"

"Katakan padaku jika terjadi sesuatu?"

"Ya, tidak apa-apa. Aku hanya kurang tidur semalam ..."

 Haruki menanggapi dengan senyum yang tenang dan sopan, itu melegakan semua orang yang tampak khawatir di sekitarnya.

(... Orang itu!)

 Namun, dari sudut pandangku, itu pasti karena dia chatting-an dengan Himeko hingga tengah malam kemarin. Aku meletakkan tanganku diantara alisku secara spontan.

"……Ah"

 Saat itu, smartphone Haruki tiba-tiba bergetar. Segera setelahnya, dia membaca pesan yang masuk dengan gelisah, terkikik dan menyeringai, dan itu membuat bingung orang-orang disekitarnya.

"Dia tidak bisa tidur tadi malam... Dia senang sekarang... Tidak mungkin...!"

"Tunggu, bukankah dia tidak pernah seperti ini sebelumnya?"

"Mana si murid pindahan... Kirishima?! Gantung dia! Pasti karena dia!"

 beberapa anak laki-laki mulai mengincarku dan mengeluarkan aura membunuh.

"……Ah"

 Akhirnya, Haruki menyadari bahwa kata-kata dan tindakannya telah menciptakan kesalahpahaman pada orang-orang sekitarnya. Saat itu matanya bertemu dengan mataku.

"(Apa yang harus aku lakukan?)"

"(... Kau meminjam padaku.)"

 Aku melihat Haruki menganggu kecil dengan tegas, aku mendesah keras dengan sengaja, dan menuju ke bangkuku.

"Selamat pagi, Nikaido-san. Kamu tampak sangat bahagia, apakah kamu baru saja mendapatkan pacar? "

"Eh, pacar?! Tidak, tidak, tidak ......... itu, Kirishima-kun...?"

"Tidak, kamu tahu, kamu keliatan seperti sedang senang dan sedih seperti kamu baru bertemu pacar pertamamu. ......  seperti bertemu seseorang yang telah lama tidak kamu temui, atau lebih tepatnya, seseorang yang kamu rindukan.."

"Itu……"

 Haruki terkejut dengan kata-kataku yang tiba-tiba itu. Dia kemudian melihat sekelilingnya, menyadari bahwa dia sekarang sedang diperhatikan oleh teman-teman sekelasnya.

 Aku mengedipkan satu mataku dengan penuh arti ke arah Haruki. Kemudian, setelah saling menatap sebentar, Haruki mengerti maksudku, tersenyum dan menunjukkan layar smartphone.

"Itu benar! Ini dia, bukankah dia imut? Kami sudah lama tidak bertemu, dan tadi malam kami bersenang-senang mengenang masa kecil kami......."

"Oh, ya? Dia gadis yang imut."

 Yang di tampilkan di sana adalah foto Haruki dan Himeko yang aku ambil saat dia datang ke rumahku tadi malam. Himeko pada saat itu mengenakan pakaian bagus dan berdandan karena antusias untuk pergi ke toserba. Fotonya tidak buruk. Bahkan jika kau mengabaikan bahwa dia adalah keluargaku, dapat dikatakan bahwa dia adalah gadis yang cantik.

 Komentar-komentar positif terdengar dari samping "Oh, dia imut", "Kalian berteman baik", "Dari sekolah mana dia?". Tampaknya mereka mengakui keimutan Himeko.

 Orang-orang di sekitar menjadi lebih tertarik pada Himeko, dan sebelum aku menyadarinya, aura gelisah Haruki memudar, dan kemudian menghilang dengan kata-kata guru wali kelas, "Diam dan duduklah".

 Haruki yang duduk di sebelah berkata padaku.

"(Terima kasih)"

 Jika kau melihat wajahnya dari dekat, kau dapat melihat lingkaran hitam di sekitar matanya, meskipun dia sedang tersenyum.  Itu bukti dia chatting-an dengan Himeko sampai tengah malam.

 Aku akan mengatakan sesuatu seperti "idiot" atau kata umpatan lain.

 Tapi tiba-tiba aku teringat rumah Haruki yang gelap tadi malam—aku tidak bisa berkata apa-apa. Entah kenapa dadaku terasa sakit.

"(... Sama-sama.)"

 Jawabku dengan suara pelan.

 Haruki, yang tampak buruk, balik tersenyum dengan malu.


Translator: Janaka

1 Comments

Previous Post Next Post

Post Ads 1

Post Ads 2